Malang, 20/8. Komisi Keadilan, Perdamaian dan Integritas Ciptaan (JPIC) dari ordo Karmel di Malang, Jawa Timur, mengajak para imam, kaum religius, dan orang awam supaya menggerakkan orang lain dalam melestarikan lingkungan hidup.
“Lingkungan hidup yang semakin rusak dan mengkhawatirkan membutuhkan penanganan segera dan serius mulai dari hirarki dan kaum religius yang dapat dan harus menjadi motivator bagi umat dan masyarakat dalam mencintai dan memelihara lingkungan hidup,” kata Frater Fransiskus Xaverius Hariawan Adji O.Carm.
Ia mencontohkan sebuah bukit di kabupaten itu yang pohon-pohonnya ditebangi penduduk setempat dan dijadikan kebun kentang setempat, serta kerusakan hutan di Pulau Kalimantan.
Adji adalah ketua panitia pelaksana seminar dan lokakarya pada 1-2 Agustus, dengan tema “Pelestarian Lingkungan sebagai Suatu Bentuk Upaya untuk Mewujudkan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan,” yang diadakan oleh JPIC dan dihadiri oleh 120 religius dan para pemimpin awam.
Berbicara dengan UCA News, Adji mengatakan seminar itu bertujuan untuk membentuk tim kerja dalam pelestarian lingkungan hidup. “Tugas mereka adalah menjadi think tank (penggerak) dengan jalan mencari ide, merefleksikannya dan mencari dasar teologis. Setelah diolah, mereka menyebarkannya kepada umat dan badan-badan di bawahnya.”
Ia mengatakan kebanyakan peserta pada seminar itu membahas masalah lingkungan hidup di wilayah mereka masing-masing, seperti penebangan hutan, banjir dan sampah plastik. Mereka tidak mengeluarkan kesepakatan bersama, tetapi mereka membuat komitmen pribadi untuk melestarikan lingkungan. Komitmen ini termasuk mengurangi penggunaan plastik.
Ia mencontohkan sebuah kelompok Legio Maria dan sebuah paroki memutuskan menggunakan gelas-gelas kaca sebagai pengganti gelas kemasan plastik air minum selama pertemuan doa, serta paroki-paroki lain yang mengembangkan program pertanian organik dan mengadakan program penyadaran lingkungan hidup.
Berkaitan dengan tim think tank itu, ia mengatakan sekitar 50 peserta menunjukan komitmen yang serius untuk melestarikan lingkungan hidup. “Dari jumlah yang ada itu akan kami seleksi lagi pada akhir follow-up program sehingga kami dapat memiliki sekitar 15 orang terbaik dan benar-benar berkomitmen untuk menjadi think tank. Kami belum tahu jumlah imam, religius dan awam yang akan terpilih tetapi kami akan memperhatikan komposisinya menurut dasar kecukupan pengetahuan teologis, keluasan wawasan dan kekuatan pengaruh.”
Yohanes Subowo, seorang peserta seminar dari Paroki St. Maria Annunciata Kalipare, mengatakan ia kini memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang pertanian organik setelah menghadiri acara itu. Ia juga mengungkapkan optimisme bahwa dengan pengetahuan ini ia akan sanggup mendorong para petani supaya menggerakan pertanian organik dan dengan demikian membantu pelestarian lingkungan hidup.
“Dalam seminar ini saya mengetahui dan semakin memiliki informasi bahwa pertanian menggunakan bahan kimia berbahaya bagi lingkungan itu sendiri,” kata Subowo, 36, kepada UCA News.
Ia mengatakan bahwa di bulan Mei ia dan para anggota dewan parokinya memulai program “percontohan pertanian organik” di lahan paroki di sebelah gedung gereja. Mereka menanam sayur sawi dan sayur-sayur lain di sana.
Subowo mengungkapkan harapan bahwa program pertanian organik itu akan dipromosikan kepada umat Katolik lain dan bahkan kepada para petani non Katolik di parokinya. “Gereja tidak hanya mengajarkan berdoa tetapi Gereja juga mengajarkan mencintai lingkungan,” katanya.
Suster Anna Wiwik Soepraptiwi PK, seorang peserta lain, mengatakan kepada UCA News gerakan pelestarian lingkungan hidup harus dipromosikan ke semua paroki di seluruh tanah air. Menurutnya, pastor paroki hendaknya bisa menjadi penggerak lingkungan hidup ini.
Ia mengatakan kongregasinya telah berfokus pada pembuatan kompos. Selain itu, kongregasinya, “menggandeng LSM berlatar belakang Islam, di antaranya kelompok madani, Cakrawali Timur, Al-Haraka, untuk bersama-sama menanam pohon dalam program penghijauan.”
Sumber: ucanews.com
KOMENTAR KITA