Situs Berita Katolik-Bulir Kasih
“Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Matius 11:25

Berdasarkan memoar Suster Maria Lucia de Jesus dos Santos, dan ribuan saksi mata yang independen, The 13th Day adalah cerita dramatis tentang pengalaman hidup tiga anak gembala pada rentang waktu bulan Mei dan Oktober 1917.
The 13th Day, film besar pertama yang disutradarai oleh Ian dan Dominic Higgins, diawali dengan adegan Suster Maria Lucia de Jesus dos Santos yang mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi antara 13 Mei 1917 dan 13 Oktober 1917 di Cova da Iria (Cove dari Irene) daerah Fatima, Portugal. Berlatar tahun 1937 dan Suster Lucia, di Biara Ponteverde, telah diminta oleh atasannya untuk menuliskan peristiwa yang dikatakan telah “mengubah hidupnya selamanya.”
Suster Lucia menceritakan waktu terjadinya peristiwa, ditunjukkannya bahwa ini berlangsung selama periode kekacauan besar – saat Perang Dunia Pertama di Eropa dan revolusi Komunis di Rusia.
Lucia memperkenalkan penonton kepada sepupunya, dua saksi mata lainnya, Francisco dan Jacinta. Ketiga anak tersebut merupakan saksi mata penampakan Bunda Maria di Cova. Kepercayaan mereka yang sangat besar terhadap kejadian penampakan Bunda Maria kepada mereka tidak selalu mendapatkan dukungan yang baik, namun juga pertentangan dan permusuhan, seperti yang dilakukan Ibu Lucia Maria Rosa (diperankan oleh Jane Lesley), dan Walikota Arturo de Oliveiro Santos (diperankan oleh Tarek Merlin).
Dalam setiap penampakannya, Bunda Maria selalu memberikan sebuah pesan kepada ketiga anak tersebut.
Pada bulan Agustus, anak-anak diculik oleh walikota dan dibawa ke Ourem. Di penjara, kesalehan anak-anak itu membuat tahanan lain terkesan, dan berakhir dengan berdoa bersama dengan mereka.
Dalam salah satu film adegan paling mengharukan, semua tiga anak itu dengan berani memutuskan menghadapi kematian daripada mengungkapkan rahasia Bunda Maria. Pada akhirnya mereka dibebaskan.
Suster Lucia meninggal pada 13 Februari 2005. Situs penampakan Maria dari Fatima terus menerus dikunjungi lebih dari 4 juta peziarah setiap tahunnya.
REVIEW The 13th Day: The True Story of Fatima
Dalam situs pribadinya, Pastor John Zuhlsdorf menuliskan review film baru ini.
Rm. John Zuhlsdorf menuliskan bahwa film ini akan menjadi sumber banyak diskusi. Menurutnya film ini membantu mendorong minat terhadap pesan Bunda Maria dan mempertimbangkan hal itu pada zaman kita.
Film dibuka dengan sentuhan apokaliptik melalui referensi naga merah dari Book of Revelation. Juga, pada awalnya terdapat beberapa narasi oleh Lucia, 20 tahun setelah penampakan, untuk menempatkan kita dalam konteks historis.
Jangan mengharapkan sebuah film dokumenter, atau apa pun seperti cerita lengkap dari seluruh cerita tentang penampakan Fatima. Film ini tidak panjang dan tidak bergerak sangat cepat. Oleh karena itu, banyak cerita yang terlewat. Jangan juga berharap film ini seperti trailernya. Dalam beberapa cara, trailer sebenarnya lebih menarik daripada film.
Akting yang dilakukan para aktor sangat baik. Performance ibu Lucia yang jahat yang ditampilkan sangat kuat. Akhirnya dia dan Lucia mungkin sama-sama melakukan akting yang terbaik dalam film. Akting ketiga anak-anak, yang jauh lebih cantik anak-anak yang aslinya, cukup meyakinkan.

Film ini dibuat dengan style yang tinggi. Sebagian besar film tersebut berwarna hitam putih. Warna hitam putih ini digunakan untuk menunjukkan mana bagian-bagian yang normal, mana bagian yang terkena sentuhan kekuatan supranatural. Ketika kekuatan supranatural masuk ke dalam adegan film, penonton akan menemukan film tersebut dalam warna sepia dan pastel yang kuat. Ada juga sedikit percikan warna pada momen lain untuk menarik perhatian kita. Tapi ini sedikit dibuat-buat, kata Rm. John.
Rm. John mengajak pembaca lebih kritis dalam menonton film. Film ini menurutnya memiliki beberapa hal yang perlu didiskusikan.
Masalah pertama. Film dengan warna hitam putih dengan percikan berwarna telah kita lihat sebelumnya dalam film lain, contohnya dalam Schindler’s List. Dalam film ini bahkan dilakukan, sekali lagi, dengan lilin yang menyala. Narasi di awal cerita, kata Fr. John, mengingatkan kita pada bagian pertama film Lord of the Rings ketika Galadriel mengajak penonton ke masa lalu. Musiknya juga bentukan ulang, kita akan mendengar sedikit sentuhan Miserere-nya Allegri. Di penghujung film saat penayangan kredit film, kita akan mendengar lagu pop yang dengan gaya yang memprovokasi, sebuah gaya yang bertentangan dengan sisa akhir film tersebut. Gaya film ini pada awalnya disajikan dalam film bisu. mungkin mengingatkan kita akan Grapes of Wrath atau musik klasik di tahun 1920-an dalam The Passion of Saint Joan (of Arc), belum lama ini remaster dengan musik baru yang dinyanyikan oleh Anonymous 4. Lihatlah dalam film ini, dalam kredit, penonton juga akan menemukan Anonymous 4. Intinya, ini semua adalah daur ulang yang dilakukan secara terampil terhadap beberapa hal yang pernah kita lihat sebelumnya, kata Rm. John.
Skema warna, pengambilan sudut frame dan kamera dari novel grafis, yang digunakan dalam film ini, begitu populer di kalangan orang-orang muda.
Sampai kepada masalah target penonton. Rm. John berpendapat bahwa penonton remaja dan orang muda akan lebih mudah menerima dibandingkan orang Katolik yang berpengalaman. Ini adalah hal yang baik, katanya, karena merekalah yang dibutuhkan agar tertarik terhadap pesan Bunda Maria. Menurutnya, unsur-unsur yang ditiru pembuat film akan menarik perhatian mereka.
Jadi, orang muda merupakan target. Ia sebenarnya membayangkan apakah film ini juga pantas untuk ditonton anak-anak. Ada saat-saat yang cukup menyeramkan yang dapat menakutkan anak-anak. Mengingat dalam film tersebut ketiga anak itu kadang-kadang takut juga.
Rm. John memuji bagaimana film ini menggambarkan Perawan Maria. Anda akan puas dengan “Keajaiban dari Matahari”, katanya.
Menurutnya, para pembuat film seharusnya memilih untuk fokus kepada prinsip-prinsip emosi dan hubungan mereka dari pada mencoba lebih menceritakan cerita utuh penampakan. Ia menemukan dalam film highly stylized, dengan perpaduan dari grafis novel grafis dengan film bisu, sedikit terjadi commedia dell’arte (jenis komedi Itali di abad 16 dan 17 –Penj.) : karakter-karaternya, meskipun tidak terlalu mirip dengan karakter tokoh aslinya, mungkin sedikit mirip seperti karakter stereotipe, jenis murni. Karakter sekunder dan tambahannya memiliki wajah yang menarik, yang dibuat bahkan lebih menarik dengan efek cahaya dan bayangan yang tajam. Para aktornya ekspresif dan mereka berusaha keras menjiwainya. Ada beberapa kali, kata Rm. John, saya berharap sutradara akan membiarkan kita melihat mereka melakukan aktingnya tanpa gaya yang mengganggu.
Mengenai Rahasia Ketiga (atau Keempat). Film ini tidak benar-benar banyak menuju kesana. Beberapa bagian film diberikan kepada penampakan yang merupakan subjek bagian dari Rahasia Ketiga yang terungkap beberapa tahun yang lalu. Anda melihat kota hancur dan mayat-mayat, gambar uskup dalam pakaian putih (jelas Bapa Suci dalam film) akan menaiki lereng bukit menuju salib tempat dia dibunuh. Sebenarnya, saat itu adalah salah satu titik perhatian untuk anak-anak. Namun, mengenai Rahasia Ketiga, film ini tidak berpijak pada itu atau mengabaikannya. Ada, tetapi tidak diberi banyak perhatian. Tidak menutup kemungkinan, menurut beberapa orang, bahwa ada yang lebih dari Rahasia Ketiga yang telah diberitahu. Sekali lagi, film ini dimulai dengan penglihatan Sr. Lucia 20 tahun setelah penampakan yang ditulis atas perintah atasannya.
Film bisa menjadi titik awal sebagai topik diskusi yang kontroversial.
Memaparkan beberapa kelemahan film ini, Rm. John menyatakan dalam tulisannya dia tidak hendak menyerang film tersebut.
Ada juga beberapa kelebihan dan momen-momen bagus di film ini.
Sebagai contoh, mengingat bahwa target penonton adalah dari kalangan remaja dan kaum muda, sebuah penggambaran kembali cerita dituang ke dalam layar, dalam gaya familiar dengan kelompok usia mereka, pasti akan menarik bagi mereka.
Selain itu, salah satu subplot dalam film ini berasal dari konteks historis. Pemerintah anti-Katolik ditampilkan takut akan penampakan itu, dan cukup jahat juga. Para perwakilan dari pemerintah yang mencoba untuk menakut-nakuti anak-anak, para wartawan yang datang untuk penampakan Oktober, hampir mirip seperti yang kita alami sekarang ini. Situasi memanas akan terjadinya sebuah perang, bahkan kematian influenza yang dialami Francesco tampak seperti baru terjadi.
Rm. John mengatakan film ini lebih kelihatan sperti mengemas ulang cerita Fatima untuk kaum muda jaman sekarang, menghadapi masalah masa kini. Ini sebuah kelebihan yang kuat. Sebenarnya, ini membuat dirinya harus mencari pada beberapa bahan tentang Bunda Maria dan pesannya dan mangambil beberapa buku untuk ditinjau.
Ia juga berpendapat, akan sangat baik jika sekolah atau paroki mengadakan sebuah diskusi baik sebelum atau sesudah film itu diputar.
Rm. John Zuhlsdorf adalah Moderator Catholic Online Forum dan dormant di ASK FATHER Question Box.






Seorang mantan uskup “underground” di Cina menyatakan memutuskan untuk mengambil peran utama dalam badan organisasi keagamaan dibawah pemerintahan Cina, Asosiasi Patriotik Katolik (CPA) untuk menggalang persatuan di keuskupan Baoding .
Lokasi: Jakarta

• 




KOMENTAR KITA