AMOR XV, Mencari Panggilan Relevan di Dunia Modern
-
Situs Berita KatolikBulir Kasih
Sam Phran, Thailand– Komunitas Rohaniwan Perempuan sedang menghadapi krisis dikarenakan banyak orang-orang muda mengabaikan panggilan yang mereka sebut sebagai “sesuatu yang tidak relevan,” kata seorang suster India dalam sebuah pertemuan para biarawati di Thailand baru-baru ini.
Beberapa suster juga “tidak bahagia dalam misi mereka sendiri,” kata Suster Assumption Rekka M. Chennattu. “Hal ini memanggil kita untuk mendefinisikan kembali identitas dan misi kami, untuk … membuat identitas dan misi kami relevan dengan dunia sekarang ini.”
Lebih dari 100 suster dari 18 negara di wilayah Asia dan Oceania bertemu di barat Bangkok dalam Pertemuan Rohaniwan Perempuan se-Asia dan Oseania ke 15 (Asia and Oceania Meeting of Women Religious /AMOR XV) mulai13 sampai 21 Oktober.
Pemimpin rohaniwan perempuan AMOR selalu berkumpul setiap beberapa tahun untuk berbagi ide dengan satu sama lain, memberikan dorongan, dan menetapkan tujuan untuk masa mendatang. Organisasi tersebut tidak memiliki status resmi dalam struktur Gereja.
Selama pertemuan, ketua AMOR XV Suster Sompong Thabping mengatakan bahwa salah satu cara untuk menemukan relevansi kontemporer sekarang ini adalah untuk menjadi “lebih sadar akan ketidakadilan dalam masyarakat” dan untuk merespon itu. “Kita harus berani berdampingan dengan kaum miskin dan terpinggirkan,” tambahnya.
Pesan akhir pertemuan tersebut menjanjikan program kerjasama dan pembentukan jaringan di konggegrasi, begitu juga dengan Gereja dan masyarakat.
Suster Maria Rosa Medina, kepala sekretariat AMOR XV, mengatakan pertemuan ini membantu para biarawati merefleksikan, dan pada realitas saat ini, dan memutuskan bagaimana harus menghadapinya. Rohaniwan perempuan sekarang ini perlu bekerja lebih erat dengan pemerintah dan LSM, katanya.
Suster Mercedarian dari Jepang Hirota Filo setuju bahwa AMOR mendorong keterlibatan mereka dengan dunia modern.
“AMOR telah membentuk perempuan muda untuk menjadi warga negara yang bertanggungjawab, hidup dalam dialog dengan orang miskin dan terpinggirkan untuk menciptakan cara-cara baru untuk mewujudkan Gereja di Asia,” katanya.
Selama konferensi, para rohaniwan katolik wanita juga mendengarkan perjuangan rahib perempuan dari agama Buddha untuk dapat diterima masyarakat Thailand.
Seorang biksu perempuan, bhikkhuni Poonsirivara, mengatakan bahwa di masa lalu mereka telah dipandang rendah. “Tapi situasi sekarang lebih baik” karena perempuan mengambil peran lebih aktif dalam masyarakat dan biarawan dan orang awam, terutama laki-laki, menjadi lebih akrab dengan mereka dan pekerjaan mereka. “Kami lebih diterima masyarakat,” katanya.
“Hal terpenting adalah membangun lebih banyak lagi model panutan dan mengundang perempuan untuk lebih berpartisipasi.”
Di Thailand hanya terdapat 18 rahib perempuan dari agama Budha dan 40 calon rahib perempuan agama Budha, kata bhikkhuni Poonsirivara. Jumlah tersebut sangat kecil dibanding sekitar 45.000 biarawati agama Budha pada tahun 2007, menurut Universitas Budha Maha Mongkut, Bangkok. Namun, dalam masyarakat Thai sendiri, biarawati Budha justru kurang mendapatkan penghargaan dalam masyarakat.Rencananya, pertemuan AMOR berikutnya di tahun 2013 mendatang akan dilaksanakan di Filipina.








• 




KOMENTAR KITA