Logo Background RSS
Blue Theme Green Theme Pink Theme Black Theme Red Theme

Apresiasi Terhadap Injil-injil Rahasia

  • Judul Buku : Menguak Injil-Injil Rahasia
    Peresensi : St. Deny Hermawan
    Dimuat di : Kedaulatan Rakyat, 9 Desember 2007

    Mendengar istilah Injil terlarang dewasa ini memang bukan merupakan hal yang baru. Secara faktual, di luar Injil-injil yang diakui resmi oleh Gereja (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), terdapat banyak Injil (Gospel) dan tulisan lain seperti Kisah (Acts), Surat (Epistle), dan wahyu (Apocalypse) yang bersifat rahasia dan tersembunyi. Lewat media populer, masyarakat bisa mencicipi secuil dari rasa yang ditawarkan Injil-injil apokrif (tersembunyi/rahasia) tersebut. Novel lalu film The Da Vinci Code adalah salah satu yang populer. Belum lama juga telah ditemukandan dipublikasikan Injil Yudas. Selain itu, cuplikan Injil-injil di luar kanon (daftar) Kitab Suci muncul juga dalam buku The Jesus Dynasty karangan James D Tabor dan film dokumenter The Lost Tomb of Jesus karya sutradara Simcha Jacobovici yang juga kontroversial.
    Beberapa kisah dalam Injil-injil terlarang tersebut memang berbeda dari isi Injil Kanonik. Di dalam injil Yudas, misalnya dapat kita lihat bahwa Yudas Iskariot bukanlah seorang pengkhianat seperti di dalam Injil Kanonik. Ia bahkan malah merupakan seorang pahlawan, seorang yang bisa memahami ajaran rahasia (gnosis) Yesus Kristus. Yudas menjadi lebih besar dari murid-murid Yesus lainnya karena ia mengorbankan wujud manusia yang meragai Yesus. Di dalam Injil Filipus, kita dapat melihat bahwa Maria Magdalena adalah murid yang paling dicintai oleh Yesus. Dikatakan di dalam Injil tersebut Yesus biasa dan seringkali mencium Maria Magdalena pada mulutnya. Beberapa kisah “berbeda” semacam ini yang yang lainnya tentu tidak akan dapat kita temukan di Injil Kanonik.
    Melalui buku Menguak Injil-Injil Rahasia ini kita diajak untuk mengapresiasi Injil/tulisan yang apokrif. Melaluinya, kita diajak untuk melihat sosok Yesus Kristus, kisah hidup maupun ajarannya melalui perspektif yang berbeda dari perspektif Injil Kanonik. Kita dapat melihat bagaimana pasca Yesus, beberapa orang memang berusaha  engungkapkan pemahaman spiritualnya tentang kisah hidup Yesus maupun ajarannya yang dalam tataran tertentu berlainan, baik dalam narasi maupun konsep-konsep spiritual dengan Injil Kanonik. Kita juga bisa mempelajari bagaimana proses Kanonisasi Injil-injil tersebut oleh Gereja. Kita dapat mengetahui dan menilai alasan mengapa Gereja tidak memasukkan Injil-injil apokrif tersebut sebagai bagian dari Kitab Suci.
    Secara historis, kelemahan dari kebanyakan Injil apokrif tersebut adalah ditulis sesudah keempat Injil Kanonik. Wajar apabila muncul asumsi dasar bahwa Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dianggap sah karena ditulis paling awal dan mempunyai benang merah yang sangat kuat. Buku ini juga menjelaskan pengaruh Gnostisisme dalam penulisan Injil-injil apokrif tersebut. Gnostisisme adalah kepercayaan pada zaman Yesus yang mengganggap bahwa sekelompok orang tertentu menerima pengetahuan (bahasa Yunani, gnosis) esoteris yang pasti, mutlak dan menyelamatkan.
    Lewat buku ini, nantinya anda bisa menilai sendiri kebenaran Injil-injil apokrif tersebut. Pembaca pada akhirnya dibebaskan untuk menilai apakah Injil-injil apokrif tersebut dirahasiakan karena bersifat menyerang nilai-nilai Kristiani awal yang sudah terbentuk dan mapan, ataukah karena tulisan-tulisan itu dirahasiakan karena tulisan tersbut memang dimaksud untuk dibaca kalangan terbatas yang bisa membingungkan bila dibaca begitu saja oleh kalangan luas yang belum memiliki pemahaman intelektual  maupun spiritual yang memadahi.

    (sumber: Kanisius media)

Leave a Comment