Logo Background RSS
Blue Theme Green Theme Pink Theme Black Theme Red Theme

» Gereja Kita

  • Uskup Underground Xiwanzi Meninggal, Pemakaman Hanya ...
    By Bulirkasih on January 5th, 2010 | No Comments Comments

    Situs Berita Katolik-Bulir Kasih
    Walaupun daerah Xiwanzi diselimuti salju tebal, ribuan umat katolik berharap dapat menghadiri pemakaman Uskup Leo Yao Liang. Sayangnya, pemerintah melarang dipertunjukkannnya Episkopal insignia milik uskup tersebut, melarang penerbitan berita kematiannya dan hanya memperbolehkan tiga imam untuk menghadiri upacara pemakaman. Pada tahun 2009, 7 Cina uskup meninggal. Sekarang ini, di Cina hanya  tinggal 94 pastor.

    BEIJING- Uskup Koajutor Leo Yao Liang dari Xiwanzi, provinsi Hebei, meninggal di rumah sakit 30 Desember  pada usia 86, hampir satu tahun setelah ia dibebaskan dari penahanan 30-bulan. Pihak berwenang kemudian memperketat keamanan menjelang pemakamannya.

    Sementara itu, Uskup Hou Jinli 93, sedang sakit, menderita diabetes. Bersama dengan Uskup Leo Yao Liang, kedua pejabat tinggi gereja ini tidak diakui oleh gereja terbuka yang diakui pemerintah Cina.

    Kematian Uskup Yao menjadikan jumlah uskup di Cina tersisa menjadi 94 uskup yang ada di seluruh daratan Cina. jumlah tersebut merupakan 38 uskup bawah tanah dan 56 dari Gereja resmi, menurut Anthony Lam, peneliti senior dari Holy Spirit Study Centre di Keuskupan Hong Kong. Seperti yang dikatakan Anthony lam dalam AsiaNews, ia menambahkan bahwa sebanyak tujuh uskup di Cina meninggal pada tahun 2009, termasuk di dalamnya tiga dari bawah tanah (termasuk Yao) dan empat dari Gereja resmi.
    Meskipun China utara sedang diselimuti salju tebal, ribuan umat Katolik setempat berharap bisa menghadiri pemakaman Uskup Yao pada misa di gereja kota Xiwanzi, kabupaten Chongli, provinsi Hebei, tanggal 6 Januari besok. Sumber-sumber setempat mengatakan keamanan publik telah diperketat, mencegah orang dari luar daerah dari menghadiri pemakaman.

    Pejabat pemerintah mengakui Uskup Yao hanya sebagai imam dan dengan demikian hanya akan mengizinkan pemakaman yang dilaksanakan sebagai pemakaman untuk seorang imam bukan sebagai seorang uskup. Hanya tiga imam dari keuskupan yang diperbolehkan untuk merayakan Misa pemakaman, dan umat Katolik setempat tidak diperbolehkan untuk mengeluarkan obituari prelatus tersebut di Gereja.

    Uskup Yao ditahan oleh polisi pada bulan Juli 2006 dan dikembalikan ke gereja pada 25 Januari 2009, pada saat Tahun Baru Cina, setelah 30 bulan penahanan. Sejak saat itu, sang uskup telah berada di bawah pengawasan yang ketat. Uskup Hou di dekat daerah Zhangbei juga turut dimonitor. Meskipun Uskup Yao ini telah mulai membangun sebuah gereja di Xiwanzi, dan baru saja mendirikan sebuah yayasan.

    Uskup Yao lahir pada tahun 1923 dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1948 dan secara sembunyi-sembunyi wakil uskup yang ditahbiskan pada tahun 2002. Tubuhnya akan dikuburkan di tempat pemakaman pastor, sekitar 10 menit dari gereja Xiwanzi, di mana almarhum Uskup Melchior Kexing Zhang dari Xiwanzi yang meninggal pada tahun 1988, dan imam lainnya dikuburkan.

    Setelah Uskup Zhang, Uskup Hou secara sembunyi-sembunyi ditahbiskan menjadi uskup pada tahun 1984. Uskup Hou lahir pada 1916 dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1943. (AN/ Zhen Yuan)

  • Akhirnya, Umat Katolik Malaysia Bebas Menggunakan Kat...
    By Bulirkasih on January 4th, 2010 | No Comments Comments

    Situs Berita Katolik-Bulir Kasih

    KUALA LUMPUR – Pengadilan tinggi Malaysia pada hari Kamis (31/12) yang lalu memutuskan bahwa surat kabar Katolik memiliki hak untuk menggunakan kata “Allah” setelah perselisihan panjang antara pemerintah dan sebuah mingguan di sebuah negara yang mayoritas beragama islam.
    Keputusan tersebut kemudian menggulingkan ancaman kontorversial pemerintah Malaysia untuk mencabut izin penerbitan surat kabar The Herald di Malaysia.
    Dalam persidangan yang penuh sesak tersebut, Hakim Lau Bee Lan mengatakan “Pemohon memiliki hak konstitusional untuk menggunakan kata ‘Allah’.” Ia juga menyatakan bahwa larangan pemerintah terhadap penggunaan kata tersebut “ilegal, batal dan tidak berlaku”.

    Mingguan tersebut menggunakan kata “Allah” sebagai terjemahan untuk “Tuhan” sebagai bagian dalam bahasa Malaysia, tetapi pemerintah menentang bahwa kata “Allah” hanya bisa digunakan oleh umat Islam.

    Hakim Lau mengatakan kementrian dalam negeri Malaysia, yang membawahi semua lisensi surat kabar di negara tersebut, telah diperhitungkan atas “pertimbangan yang tidak relevan” ketika membuat izin penerbitan koran itu dengan syarat tidak menggunakan kata ‘Allah’.

    Hakim Lau mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak menunjukkan bukti bahwa penggunaan kata ‘Allah’ oleh orang Kristen merupakan “ancaman terhadap keamanan nasional”.

    Editor The Herald, Pastor Lawrence Andrew, mengatakan ia senang dengan keputusan tersebut dan surat kabarnya akan menggunakan kata ‘Allah’ dalam edisi Minggu mendatang.

    “Hal ini juga berarti bahwa … iman Kristen dapat melanjutkan untuk menggunakan kata ‘Allah’ secara bebas … tanpa ada campur tangan dari pihak berwenang,” tambahnya.

    Sementara itu, pengacara pihak pemerintah belum memutuskan apakah akan mengajukan banding atas keputusan tersebut.

    The Herald yang dicetak dalam empat bahasa, dengan sirkulasi 14.000 eksemplar seminggu di sebuah negara dengan sekitar 850.000 umat Katolik.

    Pengadilan terhadap kasus tersebut terjadi di antara serangkaian perselisihan keagamaan yang telah meledak dalam beberapa tahun terakhir. Keteganan hubungan terjadi antara Muslim Melayu dan etnis minoritas Cina dan India yang takut negara ini menjadi diislamkan.

    Agama dan bahasa adalah isu-isu sensitif di Malaysia yang multiras. Sejarah menyatakan Malaysia pernah mengalami kerusuhan ras mematikan pada tahun 1969. (AFP)

  • AMOR XV, Mencari Panggilan Relevan di Dunia Modern
    By Bulirkasih on November 3rd, 2009 | No Comments Comments

    bulir kasih- amor XV untuk umat gereja katolik di thailandSitus Berita Katolik

    Bulir Kasih

    Sam Phran, Thailand– Komunitas Rohaniwan Perempuan sedang menghadapi krisis dikarenakan banyak orang-orang muda mengabaikan panggilan yang mereka sebut sebagai “sesuatu yang tidak relevan,” kata seorang suster India dalam sebuah pertemuan para biarawati di Thailand baru-baru ini.
    Beberapa suster juga “tidak bahagia dalam misi mereka sendiri,” kata Suster Assumption Rekka M. Chennattu. “Hal ini memanggil kita untuk mendefinisikan kembali identitas dan misi kami, untuk … membuat identitas dan misi kami relevan dengan dunia sekarang ini.”
    Lebih dari 100 suster dari 18 negara di wilayah Asia dan Oceania bertemu di barat Bangkok dalam Pertemuan Rohaniwan Perempuan se-Asia dan Oseania ke 15 (Asia and Oceania Meeting of Women Religious /AMOR XV) mulai13 sampai 21 Oktober.
    Pemimpin rohaniwan perempuan AMOR selalu berkumpul setiap beberapa tahun untuk berbagi ide dengan satu sama lain, memberikan dorongan, dan menetapkan tujuan untuk masa mendatang. Organisasi tersebut tidak memiliki status resmi dalam struktur Gereja.
    Selama pertemuan, ketua AMOR XV Suster Sompong Thabping mengatakan bahwa salah satu cara untuk menemukan relevansi kontemporer sekarang ini adalah untuk menjadi “lebih sadar akan ketidakadilan dalam masyarakat” dan untuk merespon itu. “Kita harus berani berdampingan dengan kaum miskin dan terpinggirkan,” tambahnya.
    Pesan akhir pertemuan tersebut menjanjikan program kerjasama dan pembentukan jaringan di konggegrasi, begitu juga dengan Gereja dan masyarakat.
    Suster Maria Rosa Medina, kepala sekretariat AMOR XV, mengatakan pertemuan ini membantu para biarawati merefleksikan, dan pada realitas saat ini, dan memutuskan bagaimana harus menghadapinya. Rohaniwan perempuan sekarang ini perlu bekerja lebih erat dengan pemerintah dan LSM, katanya.
    Suster Mercedarian dari Jepang Hirota Filo setuju bahwa AMOR mendorong keterlibatan mereka dengan dunia modern.
    “AMOR telah membentuk perempuan muda untuk menjadi warga negara yang bertanggungjawab, hidup dalam dialog dengan orang miskin dan terpinggirkan untuk menciptakan cara-cara baru  untuk mewujudkan Gereja di Asia,” katanya.
    Selama konferensi, para rohaniwan katolik wanita juga mendengarkan perjuangan rahib perempuan dari agama Buddha untuk dapat diterima masyarakat Thailand.
    Seorang biksu perempuan, bhikkhuni Poonsirivara, mengatakan bahwa di masa lalu mereka telah dipandang rendah. “Tapi situasi sekarang lebih baik” karena perempuan mengambil peran lebih aktif dalam masyarakat dan biarawan dan orang awam, terutama laki-laki, menjadi lebih akrab dengan mereka dan pekerjaan mereka. “Kami lebih diterima masyarakat,” katanya.
    “Hal terpenting adalah membangun lebih banyak lagi model panutan dan mengundang perempuan untuk lebih berpartisipasi.”
    Di Thailand hanya terdapat 18 rahib perempuan dari agama Budha dan 40 calon rahib perempuan agama Budha, kata bhikkhuni Poonsirivara. Jumlah tersebut sangat kecil dibanding sekitar 45.000 biarawati agama Budha pada tahun 2007, menurut Universitas Budha Maha Mongkut, Bangkok. Namun, dalam masyarakat Thai sendiri, biarawati Budha justru kurang mendapatkan penghargaan dalam masyarakat.

    Rencananya, pertemuan AMOR berikutnya di tahun 2013 mendatang akan dilaksanakan di Filipina.