Logo Background RSS
Blue Theme Green Theme Pink Theme Black Theme Red Theme

» Misionaris

  • Akhirnya, Umat Katolik Malaysia Bebas Menggunakan Kat...
    By Bulirkasih on January 4th, 2010 | No Comments Comments

    Situs Berita Katolik-Bulir Kasih

    KUALA LUMPUR – Pengadilan tinggi Malaysia pada hari Kamis (31/12) yang lalu memutuskan bahwa surat kabar Katolik memiliki hak untuk menggunakan kata “Allah” setelah perselisihan panjang antara pemerintah dan sebuah mingguan di sebuah negara yang mayoritas beragama islam.
    Keputusan tersebut kemudian menggulingkan ancaman kontorversial pemerintah Malaysia untuk mencabut izin penerbitan surat kabar The Herald di Malaysia.
    Dalam persidangan yang penuh sesak tersebut, Hakim Lau Bee Lan mengatakan “Pemohon memiliki hak konstitusional untuk menggunakan kata ‘Allah’.” Ia juga menyatakan bahwa larangan pemerintah terhadap penggunaan kata tersebut “ilegal, batal dan tidak berlaku”.

    Mingguan tersebut menggunakan kata “Allah” sebagai terjemahan untuk “Tuhan” sebagai bagian dalam bahasa Malaysia, tetapi pemerintah menentang bahwa kata “Allah” hanya bisa digunakan oleh umat Islam.

    Hakim Lau mengatakan kementrian dalam negeri Malaysia, yang membawahi semua lisensi surat kabar di negara tersebut, telah diperhitungkan atas “pertimbangan yang tidak relevan” ketika membuat izin penerbitan koran itu dengan syarat tidak menggunakan kata ‘Allah’.

    Hakim Lau mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak menunjukkan bukti bahwa penggunaan kata ‘Allah’ oleh orang Kristen merupakan “ancaman terhadap keamanan nasional”.

    Editor The Herald, Pastor Lawrence Andrew, mengatakan ia senang dengan keputusan tersebut dan surat kabarnya akan menggunakan kata ‘Allah’ dalam edisi Minggu mendatang.

    “Hal ini juga berarti bahwa … iman Kristen dapat melanjutkan untuk menggunakan kata ‘Allah’ secara bebas … tanpa ada campur tangan dari pihak berwenang,” tambahnya.

    Sementara itu, pengacara pihak pemerintah belum memutuskan apakah akan mengajukan banding atas keputusan tersebut.

    The Herald yang dicetak dalam empat bahasa, dengan sirkulasi 14.000 eksemplar seminggu di sebuah negara dengan sekitar 850.000 umat Katolik.

    Pengadilan terhadap kasus tersebut terjadi di antara serangkaian perselisihan keagamaan yang telah meledak dalam beberapa tahun terakhir. Keteganan hubungan terjadi antara Muslim Melayu dan etnis minoritas Cina dan India yang takut negara ini menjadi diislamkan.

    Agama dan bahasa adalah isu-isu sensitif di Malaysia yang multiras. Sejarah menyatakan Malaysia pernah mengalami kerusuhan ras mematikan pada tahun 1969. (AFP)

  • AMOR XV, Mencari Panggilan Relevan di Dunia Modern
    By Bulirkasih on November 3rd, 2009 | No Comments Comments

    bulir kasih- amor XV untuk umat gereja katolik di thailandSitus Berita Katolik

    Bulir Kasih

    Sam Phran, Thailand– Komunitas Rohaniwan Perempuan sedang menghadapi krisis dikarenakan banyak orang-orang muda mengabaikan panggilan yang mereka sebut sebagai “sesuatu yang tidak relevan,” kata seorang suster India dalam sebuah pertemuan para biarawati di Thailand baru-baru ini.
    Beberapa suster juga “tidak bahagia dalam misi mereka sendiri,” kata Suster Assumption Rekka M. Chennattu. “Hal ini memanggil kita untuk mendefinisikan kembali identitas dan misi kami, untuk … membuat identitas dan misi kami relevan dengan dunia sekarang ini.”
    Lebih dari 100 suster dari 18 negara di wilayah Asia dan Oceania bertemu di barat Bangkok dalam Pertemuan Rohaniwan Perempuan se-Asia dan Oseania ke 15 (Asia and Oceania Meeting of Women Religious /AMOR XV) mulai13 sampai 21 Oktober.
    Pemimpin rohaniwan perempuan AMOR selalu berkumpul setiap beberapa tahun untuk berbagi ide dengan satu sama lain, memberikan dorongan, dan menetapkan tujuan untuk masa mendatang. Organisasi tersebut tidak memiliki status resmi dalam struktur Gereja.
    Selama pertemuan, ketua AMOR XV Suster Sompong Thabping mengatakan bahwa salah satu cara untuk menemukan relevansi kontemporer sekarang ini adalah untuk menjadi “lebih sadar akan ketidakadilan dalam masyarakat” dan untuk merespon itu. “Kita harus berani berdampingan dengan kaum miskin dan terpinggirkan,” tambahnya.
    Pesan akhir pertemuan tersebut menjanjikan program kerjasama dan pembentukan jaringan di konggegrasi, begitu juga dengan Gereja dan masyarakat.
    Suster Maria Rosa Medina, kepala sekretariat AMOR XV, mengatakan pertemuan ini membantu para biarawati merefleksikan, dan pada realitas saat ini, dan memutuskan bagaimana harus menghadapinya. Rohaniwan perempuan sekarang ini perlu bekerja lebih erat dengan pemerintah dan LSM, katanya.
    Suster Mercedarian dari Jepang Hirota Filo setuju bahwa AMOR mendorong keterlibatan mereka dengan dunia modern.
    “AMOR telah membentuk perempuan muda untuk menjadi warga negara yang bertanggungjawab, hidup dalam dialog dengan orang miskin dan terpinggirkan untuk menciptakan cara-cara baru  untuk mewujudkan Gereja di Asia,” katanya.
    Selama konferensi, para rohaniwan katolik wanita juga mendengarkan perjuangan rahib perempuan dari agama Buddha untuk dapat diterima masyarakat Thailand.
    Seorang biksu perempuan, bhikkhuni Poonsirivara, mengatakan bahwa di masa lalu mereka telah dipandang rendah. “Tapi situasi sekarang lebih baik” karena perempuan mengambil peran lebih aktif dalam masyarakat dan biarawan dan orang awam, terutama laki-laki, menjadi lebih akrab dengan mereka dan pekerjaan mereka. “Kami lebih diterima masyarakat,” katanya.
    “Hal terpenting adalah membangun lebih banyak lagi model panutan dan mengundang perempuan untuk lebih berpartisipasi.”
    Di Thailand hanya terdapat 18 rahib perempuan dari agama Budha dan 40 calon rahib perempuan agama Budha, kata bhikkhuni Poonsirivara. Jumlah tersebut sangat kecil dibanding sekitar 45.000 biarawati agama Budha pada tahun 2007, menurut Universitas Budha Maha Mongkut, Bangkok. Namun, dalam masyarakat Thai sendiri, biarawati Budha justru kurang mendapatkan penghargaan dalam masyarakat.

    Rencananya, pertemuan AMOR berikutnya di tahun 2013 mendatang akan dilaksanakan di Filipina.

  • Menyusur Jejak Gembala; Rm. Van Lith,SJ
    By Bulirkasih on October 17th, 2009 | 1 Comment1 Comment Comments

    Franciscus Georgius Josephus van Lith SJ atau seringkali disingkat sebagai Frans van Lith (17 Mei 1863–9 Januari 1926) adalah seorang imam Yesuit asal Oirschot, Belanda yang meletakkan dasar karya Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Ia membaptis orang-orang Jawa pertama di Sendangsono, mendirikan sekolah guru di Muntilan, memperjuangkan status pendidikan orang pribumi dalam masa pendudukan kolonial Belanda.

    Beliau terkenal karena mampu menyelaraskan ajaran agama Katolik Roma dengan ajaran Kejawen sehingga bisa diterima oleh masyarakat Jawa. Saat ini di Jawa Tengah dan Jawa Timur, agama Katolik merupakan sebuah agama yang cukup banyak dianut oleh orang Jawa dan orang keturunan Tionghoa.

    Paus Yohanes Paulus II, saat berpidato di Yogyakarta tanggal 10 Oktober 1989, mengatakan hari itu berada di jantung Pulau Jawa untuk secara khusus mengenang mereka yang telah meletakkan dasar bagi umat-Nya, yaitu Romo Van Lith SJ dan dua muridnya, Mgr Soegijapranata dan Bapak IJ. Kasimo.

    Van Lith tiba untuk pertama kalinya di Semarang tahun 1896 kemudian belajar budaya dan adat Jawa dan kemudian ditempatkan di Muntilan sejak 1897. Ia menetap di Desa Semampir di pinggir Kali Lamat.

    Pada 14 Desember 1904 Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono, Kulon Progo. Peristiwa ini dipandang sebagai lahirnya Gereja di antara orang Jawa dimana 171 orang menjadi pribumi pertama yang memeluk Katolik. Lokasi pembaptisan ini yang sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono.

    Pendidikan Untuk Pribumi

    Di desa kecil Semampir ia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah ia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan, mulai dari Normaalschool di tahun 1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool tahun 1904 dan kemudian pendidikan guru-guru kepala pada tahun 1906. Sekolah guru untuk penduduk pribumi Jawa ini bisa dimasuki oleh anak Jawa dari mana pun, dari agama apa pun. Awalnya memiliki murid 107 orang, 32 di antaranya bukan Katolik.

    Di tahun 1911 dibuka secara resmi seminari (sekolah calon pastor) pertama di Indonesia karena sebagian di antara lulusannya ingin jadi pastor. Satu di antaranya Mgr. A. Soegijapranata SJ (1896- 1963), yang kemudian menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang, uskup pertama pribumi.

    Gereja kecil dan sekolah desa Semampir kemudian berkembang menjadi satu kompleks gedung-gedung yang di tahun 1911 dinamai Kolese Franciscus Xaverius. Tahun 1948, kompleks sekolah ini dibakar.

    Lewat pendidikan sekolah di Muntilan menghasilkan tokoh politik Katolik seperti Kasimo, Frans Seda, dan sejumlah tokoh lain.

    Di Klaten Van Lith berusaha mendirikan HIS. Mula-mula pengajuan ijin pendirian sekolah HIS di Klaten ditolak oleh Asisten Residen dengan alasan di Klaten telah berdiri HIS Protestan. Karena penolakan itu maka Pastur Van Lith mengajukan permohonan langsung kepada Residen di Surakarta. Permohonannya dikabulkan, sehingga pada tahun 1920 HIS Kanisius Klaten didirikan dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di rumah penduduk.

    Van Lith memperjuangkan pendidikan bagi para pribumi. Ia mengusahakan pengiriman mahasiswa-mahasiswa pribumi ke perguruan tinggi di Belanda dan menganjurkan Yesuit agar mendirikan kolese-kolese untuk pendidikan setara AMS.

    Politik

    Ia menjadi anggota Dewan Pendidikan/Onderwijsraad tahun 1918. Tahun itu pula ia diangkat menjadi anggota sebagai anggota Komisi Peninjauan Kenegaraan Hindia Belanda/Commissie tot Herziening van de Grondslagen der Staatsinrichting van Nederlandsch-Indië. Komisi tersebut dibentuk untuk merealisasikan maksud pemerintah Belanda menata ketatanegaraan di Hindia Belanda, yang melibatkan baik orang Belanda maupun orang pribumi. Dalam komisi ini ia menuntut posisi perwakilan orang pribumi dalam Volksraad.

    Ia pun diusulkan sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Partai Sarekat Islam, pimpinan teman dekat Van Lith, K.H. Agus Salim. Memang ia tidak pernah jadi anggota Dewan Rakyat. Tetapi, atas kegiatannya di bidang pendidikan ditunjuk menjadi anggota Dewan Pendidikan Hindia Belanda dan anggota Komisi Peninjauan Kembali Ketatanegaraan Hindia Belanda.

    Di kedua lembaga itu Pater Van Lith memperjuangkan kepentingan pribumi dan ini tidak disukai oleh Belanda. Van Lith kemudian kembali ke Belanda pada tahun 1920 untuk memulihkan kesehatan. Maka, ketika mau kembali ke Indonesia setelah berobat, dia dihalang-halangi oleh pemerintah Belanda.

    Kembali ke Indonesia

    Tahun 1924 ia kembali dan kemudian menetap di Semarang dan mendirikan sekolah HIS dan Standaardschool sambil mengajar para novis Yesuit. Van Lith meninggal dunia pada tanggal 17 Mei 1926 di Semarang dan dikebumikan di pemakaman Yesuit di Muntilan.

    Source: Wikipedia