Logo Background RSS
Blue Theme Green Theme Pink Theme Black Theme Red Theme

» Berita Anda

  • Komunitas Keagamaan Rayakan Ultah Pusat Layanan Gerej...
    By Bulirkasih on January 2nd, 2010 | No Comments Comments

    Situs Berita Katolik – Bulir Kasih

    JAKARTA- Umat Katolik dan organisasi-organisasi agama Budha baru-baru ini bergandengan tangan untuk mengadakan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat miskin sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-50 pusat pelayanan Gereja.

    Wisma Samadi, pusat pastoral dijalankan oleh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), selama 50 tahun telah  memperbolehkan komunitas agama lain dan denominasi Kristen untuk menggunakan tempatnya untuk rapat dan konferensi.

    “Samadi ini terbuka untuk siapa saja yang melakukan kegiatan keagamaan,” direktur pusat layanan gereja Pastor Albertus Sadhiyoko Rahardjo.

    Berdasarkan pemikiran ini, Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK), Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki), Rumah Sakit St Carolus, dan Dewan Buddhis Indonesia menyelenggarakan acara kesehatan pada 20 Desember lalu. Program ini membantu lebih dari 600 orang miskin setempat, sebagian besar dari mereka beragama Islam.

    Jasa pelayanan medis umum yang disediakan termasuk check-up, perawatan gigi dan akupunktur.

    Andreas Pangestu, koordinator  KKMK, mengatakan program ini dimulai untuk membuat pusat layanan lebih dikenal, khususnya tetangga kami yang Islam.

    Untung Suropati, 63, seorang pasien diabetes, memuji daya jangkauannya. “Saya benar-benar menghargai apa yang mereka lakukan. Hal yang baik di sini adalah bahwa layanan ini untuk semua orang, tanpa memandang agama,” katanya.

    “Komunitas ini telah memberikan sebuah contoh, saya harap masyarakat lainnya juga akan melakukan hal yang sama.”

    Delapan belas dokter, 18 dokter gigi, delapan apoteker dan empat perawat turut ambil bagian dalam acara ini.

    Salah satu dokter, Harjastuti Chandito, seorang penganut Buddha, mengatakan dirinya  senang bekerja dengan para dokter Katolik, karena umat Budha dan Katolik berada dalam perahu yang sama, memberikan layanan sukarela bagi yang membutuhkan. Kami diajarkan hal yang sama, yaitu kasih, katanya.

    Pastor Rahardjo mengatakan pusat layanan ini telah menyelenggarakan beberapa kegiatan Gereja internasional seperti Konferensi South East Asian Major Superiors (SEAMS) beberapa tahun yang lalu.

    Dalam pelayanan kepada umat Katolik sendiri, pusat layanan ini telah difokuskan pada program seperti retret, rekoleksi dan pelatihan pastoral, ia menambahkan.

  • Anda Melintas kota Cirebon? Berdoalah di Taman Doa Ma...
    By Bulirkasih on November 3rd, 2009 | 10 Comments10 Comments Comments

    berita katolik bulir kasih-peresmian goa maria umat gereja katolik cirebonSitus Berita Katolik

    Bulir Kasih-Kota Cirebon kini sangat ideal bagi umat Katolik yang ingin berdoa dan menghormati Bunda Maria. Umat Katolik di kota udang tersebut sebenarnya sudah  sejak lama merindukan goa Maria untuk tempat berdoa. Kini doa itu telah terkabul, dan Tuhan menganugerahkan Taman Doa, yang dilengkapi dengan 24 stasi Jalan Salib. Dan pada stasi ke-14 dibangun Columbarum, tempat penyimpanan abu jenazah. Semua itu berkat partisipasi seluruh umat yang dengan berbagai macam cara ambil bagian dalam pembangunan Taman Doa tersebut. Sejak  awal diumumkannya pembangunan Taman Doa dana bantuan berupa uang tak kunjung putus. Ada yang secara rutin menyerahkan sepersepuluh dari gajinya, ada yang menyerahkan seluruh THRnya. Doa-doa pun tak kunjung putus meneguhkan pembangunan Taman Doa Maria, Regina Rosarii.

    Kini pembangunan taman doa tersebut telah usai, dan Misa pemberkatan sudah dilakukan pada Sabtu, 31 Oktober 2009 yang lalu oleh Uskup Bandung J. Pujasumarta, Pr. Ketika Perayaan Ekaristi diselenggarakan untuk mohon berkat Tuhan atas Taman Doa tersebut umat berdatangan memenuhi seluruh kawasan Taman Doa. Semuanya bersyukur dan berbahagia dengan terwujudnya Taman Doa Maria, Regina Rosarii.. Jadi, kalau kebetulan melintas di Cirebon, mampir ya…

  • Kelompok Karmelit Menggerakan Masyarakat Melestarikan...
    By Bulirkasih on October 26th, 2009 | 1 Comment1 Comment Comments

    Kelompok karmelitMalang, 20/8.  Komisi Keadilan, Perdamaian dan Integritas Ciptaan (JPIC) dari ordo Karmel di Malang, Jawa Timur, mengajak para imam, kaum religius, dan orang awam supaya menggerakkan orang lain dalam melestarikan lingkungan hidup.

    “Lingkungan hidup yang semakin rusak dan mengkhawatirkan membutuhkan penanganan segera dan serius mulai dari hirarki dan kaum religius yang dapat dan harus menjadi motivator bagi umat dan masyarakat dalam mencintai dan memelihara lingkungan hidup,” kata Frater Fransiskus Xaverius Hariawan Adji O.Carm.

    Ia mencontohkan sebuah bukit di kabupaten itu yang pohon-pohonnya ditebangi penduduk setempat dan dijadikan kebun kentang setempat, serta kerusakan hutan di Pulau Kalimantan.

    Adji adalah ketua panitia pelaksana seminar dan lokakarya pada 1-2 Agustus, dengan tema “Pelestarian Lingkungan sebagai Suatu Bentuk Upaya untuk Mewujudkan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan,” yang diadakan oleh JPIC dan dihadiri oleh 120 religius dan para pemimpin awam.

    Berbicara dengan UCA News, Adji mengatakan seminar itu bertujuan untuk membentuk tim kerja dalam pelestarian lingkungan hidup. “Tugas mereka adalah menjadi think tank (penggerak) dengan jalan mencari ide, merefleksikannya dan mencari dasar teologis. Setelah diolah, mereka menyebarkannya kepada umat dan badan-badan di bawahnya.”

    Ia mengatakan kebanyakan peserta pada seminar itu membahas masalah lingkungan hidup di wilayah mereka masing-masing, seperti penebangan hutan, banjir dan sampah plastik. Mereka  tidak  mengeluarkan  kesepakatan  bersama,  tetapi  mereka  membuat komitmen pribadi untuk melestarikan lingkungan. Komitmen ini termasuk mengurangi penggunaan  plastik.

    Ia mencontohkan sebuah kelompok Legio Maria dan sebuah paroki memutuskan menggunakan gelas-gelas kaca sebagai pengganti gelas kemasan plastik air minum selama pertemuan doa, serta paroki-paroki lain yang mengembangkan program pertanian organik dan mengadakan program penyadaran lingkungan hidup.

    Berkaitan dengan tim think tank itu, ia mengatakan sekitar 50 peserta menunjukan komitmen yang serius untuk melestarikan lingkungan hidup. “Dari jumlah yang ada itu akan kami seleksi lagi pada akhir follow-up program sehingga kami dapat memiliki sekitar 15 orang terbaik dan benar-benar berkomitmen untuk menjadi think tank. Kami belum tahu jumlah imam, religius dan awam yang akan terpilih tetapi kami akan memperhatikan komposisinya menurut dasar kecukupan pengetahuan teologis, keluasan wawasan dan kekuatan pengaruh.”

    Yohanes Subowo, seorang peserta seminar dari Paroki St. Maria Annunciata Kalipare, mengatakan ia kini memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang pertanian organik setelah menghadiri acara itu. Ia juga mengungkapkan optimisme bahwa dengan pengetahuan ini ia akan sanggup mendorong para petani supaya menggerakan pertanian organik dan dengan demikian membantu pelestarian lingkungan hidup.

    “Dalam seminar ini saya mengetahui dan semakin memiliki informasi bahwa pertanian menggunakan  bahan  kimia  berbahaya  bagi  lingkungan  itu  sendiri,”  kata  Subowo,  36, kepada  UCA  News.

    Ia mengatakan bahwa di bulan Mei ia dan para anggota dewan parokinya memulai program “percontohan pertanian organik” di lahan paroki di sebelah gedung gereja. Mereka menanam sayur sawi dan sayur-sayur lain di sana.

    Subowo mengungkapkan harapan bahwa program pertanian organik itu akan dipromosikan kepada umat Katolik lain dan bahkan kepada para petani non Katolik di parokinya. “Gereja tidak hanya mengajarkan berdoa tetapi Gereja juga mengajarkan mencintai lingkungan,” katanya.

    Suster Anna Wiwik Soepraptiwi PK, seorang peserta lain, mengatakan kepada UCA News gerakan pelestarian lingkungan hidup harus dipromosikan ke semua paroki di seluruh tanah air. Menurutnya, pastor paroki hendaknya bisa menjadi penggerak lingkungan hidup ini.

    Ia mengatakan kongregasinya telah berfokus pada pembuatan kompos. Selain itu, kongregasinya, “menggandeng LSM berlatar belakang Islam, di antaranya kelompok madani, Cakrawali Timur, Al-Haraka, untuk bersama-sama menanam pohon dalam program penghijauan.”

    Sumber: ucanews.com