Judul Buku : Toward A Theology Of Beauty, Peziarahan Jiwa
Peresensi : Agustinus Sugiarno, SCJ
Dimuat di : Duta, Desember’07
Di tengah pro dan kontra akan makna dan esensi dari Teologi Pembebasan yang di tawarkan oleh Jon Sobrino, yang menurut Vatikan terlalu condong menekankan aspek solidaritas kepada kaum miskin dan kurang memberi tekanan pada aspek iman dan penebusan dari Yesus kristus, buku ini hadir memberikan alternatif pemikiran sekaligus refleksi akan kehadiran Dia ditengah dunia yang semakin kompleks ini. Penulis (John Navone) memberikan sebuah ulasan bahwa Hakikat Kebahagiaan (yakni Allah sendiri) adalah dengan mengetahui kebenaran-Nya, mencintai kebaikan-Nya dan berkenan kepada keindahan-Nya. Ketika kita mengetahui diri kita sendiri dalam kemegahan kebenaran Allah dan mencintai diri kita dalam kegemerlapan keindahan Allah, maka itulah karunia dari Hakikat Kebahagiaan.
Hakikat keindahan menghasilkan pandangan cinta yang penuh sukacita. Pengetahuan dan cinta Allah adalah kreatif, tidak menerima pasif. Allah tidak mengetahui dan mencintai segala sesuatu karena mereka ada. Sebaliknya, mereka ada karena Allah dengan bebas menempatkan mereka -yakni mengenal dan mencintai mereka apa adanya. Segala sesuatu adalah indah karena Pencipta mereka adalah Hakikat Keindahan, mereka elok karena Pencipta mereka adalah Hakikat cinta. Apa yang dicintai, pikirkan, rasakan, dan dikehendaki, itulah yang didapatkan. Dengan mencintai Kebaikan secara sungguh-sungguh, manusia tidak puas hanya menginginkannya, melainkan juga menghendakinya dan berjuang untuk meraihnya.
Mungkin salah satu dari sisi tertentu, membuat hidup manusia tidak menjadi indah dan bahagia? Entah dari segi fisik maupun dari segi batin. Apakah ‘kekurangan’ itu bisa membantu untuk bersyukur dan kepada Dia Sang Sumber Kebahagiaan? Setiap orang memiliki sesuatu yang berharga, yang berbeda dengan orang lain, suatu anugerah dari Tuhan sendiri. Tuhan menganugerahkan keunikan yang tiada duanya, termasuk hal-hal yang oleh kebanyakan orang dianggap negatif seperti sakit, marah, gelisah, dan banyak perasaan lainnya. Semuanya itu menyatu dalam diri kita sebagai manusia sebagaimana juga dimiliki manusia lain.
Hal itu perlu, agar dengan keterbatasannya, orang bisa merasakan kebahagiaan, dapat bertahan, menjaga dan memperkembangkan kelangsungan hidupnya. Kebahagiaan menjadi mungkin, jika kita menerima segala sesuatu dengan radikal, mensyukurinya dan tidak memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri. Dengan rasa sakit berarti orang diingatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan fisiknya, maka ia harus segera mengambil tindakan, dengan rasa sedih berarti dia juga bisa merasakan rasa senang dan gembira. Semua unsur menyatu dalam diri manusia supaya manusia bahagia dan mampu bersyukur atas karunia yang tak terkira ini.
Teologi Kristen, yang berpijak pada perwahyuan historis yang meyakini Allah sebagai Pencipta segala sesuatu, mengandaikan bahwa kita dapat mengetahui kebenaran, mencintai kebaikan, dan berkenan kepada keindahan segala sesuatu, karena Penciptalah yang pertama-tama mengetahui, mencintai, dan berkenan pada seluruh ciptaan. Sang Pencipta, yaitu Hakikat Kebahagiaan, mengetahui kebenaran, mencintai kebaikan, dan berkenan kepada keindahan. Oleh karena itu, apapun yang berasal dari Pencipta, patut diketahui, pantas dicintai, dan layak disenangi. Sebagai makhluk yang berakal budi, manusia memiliki kebebasan dan kemampuan untuk memilih dan menentukan pilihan luas dan mutu cintanya. Dia mempunyai kebebasan untuk menentukan kebaikan mana yang dicintainya.
Buku ini berpijak pada pengandaian: jika Allah adalah Hakikat Kebahagiaan, berarti persekutuan dengan Allah menjadi persekutuan dengan Hakikat Kebahagiaan. Jika Hakikat Kebahagiaan selalu mengetahui kebenaran-Nya, mencintai kebaikan-Nya, dan berkenan kepada keindahan-Nya, maka kebahagiaan akhir dan abadi, -ditinjau dari segi karunia penglihatan yang membahagiakan- merupakaan persekutuan dengan hakikat kebahagiaan itu sendiri. Mata iman yaitu cinta, yang sekarang masih berada dalam bayang-bayang gelap, menikmati sesuatu dari Hakikat Keindahan yang adalah suatu kegembiraan selama-lamanya dalam penglihatan yang membahagiakan.
Bahasa yang dipakai oleh pengarang memang bercorak filsafat dan ilmiah, bahkan banyak pendapat yang sengaja diambil dari tokoh Yunani kuno, para pujangga gereja, teolog-teolog kristen, para filsuf/tokoh modern dan Alkitab sendiri. Mungkin kesan pertama ketika membaca buku ini akan tampak sulit, sehingga butuh perjuangan ekstra untuk memahaminya. Ditambah lagi dengan banyaknya catatan kaki yang diberikan, yang sebenarnya justru dimaksudkan untuk membantu pembaca memahami dan sekaligus tertantang untuk mencari sendiri makna yang terkandung di dalamnya.
Buku dengan tebal 130 halaman ini, menguraikan dengan kreatif tujuh tema pokok tentang Sang Hakikat Keindahan dan Kebahagiaan, yakni: Ciptaan dan Keindahan Segala Sesuatu, menurut Gambar dan Rupa Hakikat Keindahan, Kekuatan Keindahan, Keindahan: Sukacita Allah, Dalam Terang Keindahan Allah, Pengalaman Orang Kristen tentang Keindahan, Teologi Keindaha: Ringkasan Praanggapan, dan disertai dengan dua lampiran dari Katekismus dan tulisan Bernard Lonergan. Tidak harus mereka yang (ingin) belajar filsafat yang perlu membaca buku ini, tetapi juga setiap orang yang sedang bergulat dengan imannya, yang ingin menemukan Allah dalam rutinitas hidup harian, lewat kebaikan-Nya, kebenaran-Nya dan keindahan-Nya yang sudah nyata di dunia ini.
Karena sebenarnya, Keindahan merupakan jantung semua motivasi, keputusan, dan tindakan manusia. Sebab kita tidak bisa memutuskan dan bertindak kecuali kalau digerakkan oleh daya tarik dari sesuatu yang baik. Setiap panggilan merupakan suatu tanggapan terhadap daya tarik dari sesuatu yang baik, yang memanggil atau memikat kita. Keindahan sejati ialah daya tarik sesuatu yang baik yang menggerakkan sehingga menarik kita untuk membangun kesetiaan, komitmen, dan prestasi yang sesunguhnya. Hidup tanpa keindahan akan menjadi lesu, ngeluyur melulu, dan sungguh-sungguh kurang manusiawi. St. Agustinus menegaskan, ”hanya yang indah yang pantas dicintai…dan kita mau tak mau harus mencintai yang indah”.
(sumber: Kanisius Media)
KOMENTAR KITA