Empat Gereja di Malaysia Diserang Bom Setelah Dimenangkannya Kasus Herald
-
Situs Berita Katolik-Bulir Kasih
MALAYSIA-Jumat kemarin, sejumlah protes dan empat serangan pembakaran terhadap gereja-gereja Kristen terjadi di Malaysia. Tampaknya peristiwa ini dipicu oleh putusan pengadilan yang memungkinkan orang Kristen untuk menggunakan kata Allah.
Polisi di Malaysia meningkatkan patroli di sekitar wilayah gereja-gereja, dan komunitas-komunitas Kristen mempekerjakan penjaga keamanan, setelah bom bensin dilemparkan di empat gereja di ibukota Kuala Lumpur dan sekitarnya, sebagian bom tersebut menghancurkan salah satu gereja.
Beberapa jam kemudian, para pengkotbah umat Islam menggunakan salat Jumat untuk menyatakan penolakan terhadap putusan pengadilan yang akan memungkinkan penggunaan “Allah” sebagai istilah bahasa Malaysia untuk Tuhan-nya orang Kristen.
“Kami tidak akan membiarkan kata Allah ditulis dalam gereja,” kata salah satu pembicara di masjid Kampung Bahru di pusat Kuala Lumpur. Para pengunjuk rasa membawa poster yang berbunyi “Bidah itu muncul dari kata-kata yang salah digunakan” dan “Allah hanya untuk kita”.
Kata Allah telah digunakan selama berabad-abad di Malaysia, begitu juga oleh orang Kristen di Mesir, Suriah, Libanon dan Indonesia sebagai padanan dari kata Inggris God. Tetapi banyak umat Islam Malaysia, yang merupakan 60 persen dari populasi, mengatakan bahwa Allah hanya boleh digunakan untuk merujuk secara eksklusif kepada Tuhan-nya orang Islam dan penggunaannya dalam konteks Alkitab mendorong konversi ke Kristen, yang merupakan sebuah kejahatan di bawah hukum negara Islam.
The Herald, sebuah surat kabar Katolik di Malaysia, telah memenangkan banding beberapa hari lalu melawan pemerintah yang melarang penggunaan kata Allah oleh non-Muslim. Putusan tersebut telah ditangguhkan dalam mengantisipasi banding oleh Pemerintah, namun hal ini telah menimbulkan kemarahan umat Islam di sebuah negara dengan ketakutan tertentu atas konfrontasi etnis dan rasial.
Serangan di pagi buta telah menghancurkan lantai pertama kantor berlantai tiga Gereja Tabernakel Metro, meskipun begitu ruang ibadah itu sendiri tidak mengalami kerusakan dan tidak ada yang terluka. Bom bensin juga dilemparkan pada tiga gereja-gereja lain, salah satunya adalah gereja Katolik, di kota yang berdekatan dengan Petaling Jaya, tetapi hanya menyebabkan kerusakan kecil.
“Ada saksi mata yang melaporkan telah melihat dua orang dengan sepeda motor datang dekat pintu masuk dan melempar sesuatu ke dalam yang kelihatan seperti bom bensin,” Kevin Ang, juru bicara Gereja Tabernakel Metro mengatakan. “Gereja kami 90 persen hancur.”
Musa Hassan, Inspektur Jenderal polisi Malaysia mengatakan, sejak semalam sebelumnya, ia telah menginstruksikan semua mobil patroli untuk mengawasi semua area gereja. “Kami memantau semua gereja,” katanya.
Pada Kamis, website peradilan Malaysia diserang oleh seorang hacker dengan nama samaran “Brainwash” yang meninggalkan pesan ancaman yang tampaknya terkait dengan putusan pengadilan. Salah satu pesannya berbunyi “Allah hanya terbatas untuk Muslim.”
Karena putusan pengadilan pada Malam Tahun Baru, situs Herald, surat kabar Katolik terbesar di negara itu, juga telah diserang dengan kata-kata yang tidak senonoh oleh hacker.
Pengikut Islam membentuk mayoritas kecil di Malaysia yang berpenduduk 28 juta orang, dan di sepanjang sejarah pendek kemerdekaan negara tersebut, para pemerintahnya harus berjuang untuk menguasai ketegangan antara Muslim Melayu, dan negara yang besar populasi Cina dan India, yang beragama Kristen, Hindu dan Budha. Sebagian besar pembaca Herald adalah orang-orang suku yang beragama Kristen di negara Malaysia, yaitu di Sarawak dan Sabah yang ada di Pulau Kalimantan.
Setelah kekerasan kerusuhan anti-Cina pada tahun 1969, negara menerapkan kebijakan diskriminasi positif dalam mendukung Melayu, yang berjalan untuk menahan ketegangan tetapi juga telah menimbulkan kebencian di antara India dan Cina. Syariah, yang berlaku hanya untuk umat Islam, melarang konversi dan mandat hukuman kejam untuk kejahatan keagamaan, termasuk di dalamnya hukum cambuk bagi mereka yang tertangkap mengkonsumsi alkohol.
“Ini seharusnya tidak boleh menjadi perhatian utama karena beberapa orang telah mendapat gagasan bahwa kita berada di luar untuk mengubah [muslim], tetapi tidak sama sekali, tidak ada keraguan,” ujar editor Herald, Pastor Lawrence Andrew.
“Kami percaya tindakan ini untuk menciptakan iklim ketakutan dan dianggap ancaman terhadap keamanan nasional sehingga menjadi tekanan di pengadilan untuk membalikkan keputusannya.” (RLP/Tm)









• 




KOMENTAR KITA